
Bahrinetwork.com | Boyolali – Tak ada lagi yang bisa ditutupi. Dalam 43 adegan rekonstruksi yang digelar di Polres Boyolali, Kamis (9/4/2026), satu per satu potongan aksi biadab tersangka Agus Ratmono (30) terbuka terang. Kejahatan ini bukan sekadar perampokan—ini adalah pembantaian.
Korban, D (33), seorang juragan satai di Desa Pengkol, Karanggede, menjadi sasaran utama. Namun yang membuat publik geram, pelaku juga menghabisi nyawa anak korban, AQ, bocah 6 tahun yang tak berdaya.
Rekonstruksi memperlihatkan dengan gamblang: pelaku mencekik, menyayat, lalu menusuk korban berkali-kali. Bukan satu atau dua kali—melainkan berulang, brutal, dan tanpa belas kasihan. Total belasan luka tusukan dan sayatan diperagakan dalam adegan.

Semua bermula dari nafsu dan kebodohan. Pelaku menggadaikan sepeda motor demi Rp4 juta—uang yang justru dihamburkan untuk judi slot. Saat kantong kosong, niat jahat pun muncul. Ia merancang aksi, membeli sarung tangan, menyamarkan diri, lalu melangkah ke rumah tetangganya sendiri—calon korban.
Dengan tenang, ia memanggil korban.
“Dar, satu kali saja,” ucapnya dingin dalam reka adegan.
Namun setelah itu, yang terjadi adalah ledakan kekerasan. Korban dihajar dari ruang tamu, diseret ke dapur, dicekik, disayat dengan cutter, lalu ditusuk menggunakan gunting dapur. Setiap adegan menjadi bukti: ini bukan spontanitas—ini kebiadaban.
Jeritan anak korban yang meminta tolong justru berujung petaka. Pelaku tanpa ragu membungkam suara itu selamanya. Tindakan terhadap bocah tak berdosa itu menjadi titik paling gelap dari seluruh rangkaian adegan.
Belum puas, pelaku kembali memastikan kematian korban dengan cara-cara keji, termasuk menyiram air dan melanjutkan penusukan. Setelah itu, ia masih sempat menjarah barang milik korban sebelum kabur—seolah nyawa manusia tak lebih dari barang yang bisa dibuang.

Kasat Reskrim Polres Boyolali, AKP Indrawan Wira Saputra, menegaskan rekonstruksi ini tidak menghadirkan fakta baru, namun mempertegas betapa sistematis dan sadisnya aksi pelaku.
“Semua adegan sesuai hasil penyidikan. Bahkan pelaku menyiram air untuk memastikan korban benar-benar meninggal,” tegasnya.
Rekonstruksi ini bukan sekadar formalitas hukum. Ini adalah cermin dari sisi paling gelap manusia—ketika keserakahan, judi, dan hilangnya nurani berpadu menjadi tragedi berdarah.
(Armila GWI | Bahrinetwork.com)
Editor: Zulkarnain Idrus
Komentar0