CILEGON,– bahrinetwork.com- Polemik pemberitaan kegiatan manasik haji MGMP PAI SMP Kota Cilegon memanas. Pengawas PAI SMP Kota Cilegon, H. Ahmad Syukri, akhirnya buka suara keras terkait pemberitaan media online yang dinilai tendensius, provokatif, dan tidak profesional.
Dalam keterangannya, Ahmad Syukri menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap munculnya informasi yang dianggap tidak memiliki sumber data jelas sehingga memicu opini liar di tengah masyarakat.
“Kami sangat menyesalkan pemuatan informasi melalui media online yang tidak menyebutkan sumber data yang jelas. Informasi seperti itu tidak dapat dipertanggungjawabkan bahkan cenderung fitnah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti narasi yang mempertanyakan mengapa tidak ada pejabat yang hadir melepas kegiatan manasik haji MGMP. Menurutnya, pertanyaan tersebut justru memancing polemik yang tidak perlu dan berpotensi mengadu domba komunitas guru dengan pemerintah.
“Untuk apa dipersoalkan harus ada pejabat yang melepas? Kegiatan manasik ini merupakan agenda rutin MGMP dan tidak menggunakan dana APBD maupun APBN. Semua murni dari iuran guru yang disisihkan dari tunjangan profesi mereka,” ujarnya.
Ahmad Syukri menjelaskan, kegiatan manasik haji tersebut merupakan penutup rangkaian program MGMP semester ini sekaligus bagian dari pembinaan spiritual dan penguatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di tingkat SMP Kota Cilegon.
Menurutnya, narasi yang menyebut “ada apa pejabat tidak melepas kegiatan manasik MGMP” merupakan bentuk framing yang berbahaya karena dapat memicu kesalahpahaman publik.
“Itu pertanyaan yang cenderung provokatif dan mengadu domba komunitas MGMP dengan pejabat. Jangan sampai opini dibangun tanpa fakta yang utuh,” katanya.
Tak hanya itu, Ahmad Syukri juga melontarkan kritik pedas terhadap oknum media yang dianggap tidak menjalankan kaidah jurnalistik secara profesional.
“Tindakan seperti itu mencerminkan insan pers yang amatiran dan tidak profesional,” tandasnya.
Pernyataan keras tersebut langsung menjadi perhatian kalangan guru dan masyarakat pendidikan di Kota Cilegon.
Banyak pihak menilai polemik ini harus menjadi pelajaran penting agar setiap pemberitaan tetap mengedepankan akurasi, verifikasi, dan etika jurnalistik, terutama terkait dunia pendidikan dan kegiatan komunitas guru.
Komentar0