
Bahrinetwork.com | Binjai — Panggung peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kota Binjai digelar megah di SMP Negeri 9 Binjai, Sabtu (02/05/2026). Unsur Forkopimda hadir lengkap, Kapolres hingga jajaran pejabat daerah tampak satu barisan. Pakaian adat dari Sabang sampai Merauke membanjiri lapangan upacara—simbol kebhinekaan dipertontonkan dengan penuh warna.
Upacara berlangsung khidmat, bahkan cenderung seremonial yang rapi. Wali Kota Binjai dalam amanatnya kembali menegaskan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Narasi klasik yang tak pernah absen setiap Hardiknas.

Namun di balik parade kebudayaan dan kekompakan pejabat, publik layak bertanya: sudah sejauh mana kualitas pendidikan di Binjai benar-benar bergerak maju? Apakah seremoni tahunan ini hanya berhenti pada simbol dan panggung, atau benar-benar berbuah pada peningkatan mutu belajar, kesejahteraan guru, dan fasilitas sekolah?
Kehadiran Forkopimda memang memberi pesan kuat soal sinergi. Tapi sinergi tanpa ukuran capaian yang jelas berisiko menjadi sekadar formalitas. Dunia pendidikan hari ini tidak hanya butuh kehadiran pejabat di barisan depan upacara, melainkan keberanian mengambil langkah konkret—dari perbaikan infrastruktur sekolah, pemerataan kualitas guru, hingga pengawasan penggunaan anggaran pendidikan.

Di sisi lain, penampilan seni budaya siswa dari seluruh kecamatan menjadi satu-satunya wajah autentik yang menyegarkan. Tarian daerah, musik tradisional, dan pembacaan puisi menunjukkan bahwa potensi generasi muda Binjai tidak pernah kekurangan talenta—yang sering dipertanyakan justru ruang dan dukungan untuk berkembang.
Kegiatan memang berlangsung aman dan tertib. Tapi Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada kata “lancar”. Ia harus menjadi titik tekan evaluasi: apakah pendidikan di Kota Binjai sudah benar-benar berpihak pada masa depan anak-anaknya, atau masih terjebak dalam rutinitas seremoni tahunan?
Jika tidak ada terobosan nyata, maka pakaian adat yang dikenakan hari ini berpotensi tinggal menjadi kostum—indah dipandang, namun hampa makna.
Reporter: Zulkarnain Idrus
Komentar0